Jam

Sabtu, 29 Oktober 2016

Millah Ibrahim
 
MUQADDIMAH
Segala puji bagi Allah Penolong orang-orang yang bertaqwa, dan Yang menghinakan musuh-musuh dien ini…
Shalawat yang paling indah dan salam yang paling sempurna semoga dilimpahkan kepada Nabi dan Tauladan kita yang mengatakan:

إن الله اتخذني خليلا كما اتخذ إبراهيم

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan ku sebagai Khalil (kekasih-Nya) sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim (sebagai khalil)”(1)
Wa Ba’du:
Ini kitab saya “Millah Ibrahim” saya hadirkan kepada para pembaca yang mulia dengan bajunya yang baru ini, setelah ia tersebar dan tercetak serta dicopy berulang-ulang dan dibaca oleh para pemuda di seluruh belahan bumi sebelum saya persiapkan untuk dicetak. Sedang itu sebabnya adalah saya pernah menghadiahkan satu buah darinya dengan tulisan tangan saya kepada sebagian ikhwan kami dari Aljazair dan Pakistan. Dan saat itu ia adalah satu pasal dari kitab yang saya susun tentang “Metode Para Thaghut Dalam Membungkam Dakwah dan Para Du’at” yang mana kondisi waktu dan keadaan berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain menghalanginya dari menyelesaikannya. Maka para ikhwan itu mencetak pasal itu dengan cetakan sederhana yang mereka mampu, namun itulah awal sebab munculnya dan tersebarnya buku ini.
Kemudian tatkala Allah subhaanahu wa ta’ala membebaskan saya dengan karunia dan kemuliaan-Nya. Maka saya langsung mempersiapkan buku ini untuk dicetak terutama setelah saya melihat sepanjang masa penahanan dan keberadaan saya di penjara begitu dahsyatnya kegeraman musuh-musuh Allah terhadap buku ini. Mereka itu setiap kali menangkap seorang ikhwan, pertanyaan yang pertama kali mereka lontarkan terhadapnya adalah tentang kitab ini, apakah ia pernah membacanya? dan apakah ia mengetahui penulisnya?.
Sebagian mereka menyatakan kepada ikhwan yang menjawab pertanyaan tadi dengan jawaban “Ya”, “Ini cukup untuk menjadikan fikrah kamu jihadi dan kamu memiliki senjata. Setiap kali kami menangkap organisasi bersenjata, maka pasti kami dapatkan buku ini padanya.”
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan buku ini sebagai bagian duri di tenggorokan mereka, ghushshah (sandungan) dalam dada mereka, serta koreng yang berbahaya di hati mereka. Dan saya meminta kepada Allah agar buku ini selalu menjadi kebahagiaan bagi kami, serta selalu menjadi sa’dan (duri) (2) bagi para thaghut.
Semenjak dicetaknya buku ini untuk pertama kali hingga penulisan muqaddimah ini, saya menunggu datangnya nasihat atau tanbih, dan saya juga selalu mencari-cari koreksi atau kritikan dari banyak orang yang selalu menyerang kami, dakwah kami dan kitab kami ini dan apa yang mana mereka itu telah menuduh dan memfitnah kami dengan sesuatu yang tidak pernah muncul dari kami sama sekali… sampai akhirnya salah seorang dari mereka menyampaikan khutbah jum’at di salah satu masjid di Kuwait, dia mengklaim bahwa saya menyatakan bahwa hanya sayalah sendiri pada zaman ini yang berada di atas Millah Ibrahim. Dan dia mengklaim bahwa kami mengkafirkan manusia seluruhnya dia mencap kami sebagai KGB (Khawarij Gaya Baru) serta tuduhan-tuduhan dusta lainnya yang tadi mungkin berpengaruh kecuali atas para pengekor mereka yang buta.
Adapun pencari kebenaran yang mana bashirah mereka bersinarkan cahaya wahyu sesungguhnya mereka ini mengetahui bahwa keadaan kami dengan mereka adalah sepeti apa yang dikatakan oleh seorang penyair
وإذا أراد الله شر فضيلة طويت أتاح لها لسا ن حسود
“Dan bila Allah ingin menebarkan keutamaan yang tertutup …”
“Maka Dia memberikan kesempatan lisan orang-orang yang hasud untuknya.”
Meskipun panjangnya tenggang waktu semenjak penyebaran buku ini dan meskipun banyaknya lawan dan orang-orang yang dengki serta banyaknya orang-orang yang sering mencela dan mengecam, namun tidak ada yang sampai kepada saya pada tenggang waktu ini satupun bantahan atau kritikan atau catatan-catatan yang serius seputar buku ini. Dan yang sampai kepada saya hanyalah ocehan-ocehan umum dari sebagian orang-orang yang menyelesihi yang mana mereka menukilnya secara lisan dari syaikh-syaikh mereka. Dan inilah inti ocehan itu:
- Mereka mengatakan: Sesungguhnya Allah mensifati Ibrahim bahwa ia adalah orang yang pengiba (awwaah) lagi penyantun (halim) karena dia pernah membela-bela kaum Luth yang kafir. Sedangkan ini menafikan permusuhan terhadap mereka yang telah kalian sebutkan bahwa hal itu tergolong hal-hal yang baku dalam millah ini.
- Dan mereka berkata (sungguh aneh apa yang mereka katakan): Sesungguhnya kita diperintahkan untuk mengikuti jalan Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan millahnya. Adapun Millah Ibrahim maka itu adalah tergolong syari’at orang-orang sebelum kita, sedangkan syari’at orang sebelum kita bukanlah syari’at bagi kita.
- Dan mereka berkata: Sesungguhnya ayat Al Mumtahanah yang disebutkan di dalamya Millah Ibrahim adalah Madaniyyah. Ia turun di fase di mana kaum muslimin memiliki daulah (negara), terus mereka menyimpulkan bahwa Millah Ibrahim yang agung ini hanya ditampakkan dan diikuti saat adanya daulah.
- Mereka berkata juga: Sesungguhnya hadits tentang penghancuran patung-patung di Mekkah adalah hadits dhaif, dan mereka mencari celah dengan hal itu seraya bertujuan menolak apa yang paling penting di dalam kitab ini dengan cara melemahkan hadits itu.
Mungkin pembaca yang cerdik akan mengritik kami dengan sebab kami mau meluangkan waktu buat mereka dalam rangka membantah lontaran-lontaran yang hakekatnya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:
شبهة تهافت كالزجاج تخالها حقا وكل كاسر مكسور
“Syubhat yang rapuh bagaikan kaca, engkau mengiranya benar,
padahal semuanya adalah memecahkan lagi dipecahkan.”
Namun saya melihat tidak ada halangannya untuk membantah hal itu, karena khawatir hal itu mempengaruhi sebagaian orang atau ditelan mentah-mentah oleh sebagian orang bodoh, terutama karena tidak ada yang sampai kepada saya selain hal itu, maka saya katakan dengan ringkas:
Pertama: Adapun firman Allah subhaanahu wa ta’ala tentang Ibrahim:
فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ وَجَآءَتْهُ الْبُشْرَى يُجَادِلُنَا فِي قَوْمِ لُوطٍ. إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ.
Artinya: “Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, diapun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud, 11: 74-75)
Sungguh di dalamnya tidak ada dilalah yang bisa digunakan oleh mujadilun (orang-orang yang mendebat) untuk menutupi kebatilan mereka, para ahli tafsir telah meriwayatkan bahwa jidal (pembelaan) Ibrahim terhadap kaum Luth hanyalah demi (keselamatan) Luth dan bukan untuk mereka, para ahli tafsir menuturkan bahwa tatkala Ibrahim mendengar ucapan malaikat, “Sesungguhnya kami akan membinasakan penduduk desa ini.”
إِنَّا مُهْلِكُوا أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ
Artinya: “…Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Sodom) ini…” (QS. Al Ankabut, 29: 31)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar