#Daulah_Khilafah_Islamiyah
#Arsip_Adab_Islamiyyah
💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡
بسم الله الر حمن الر حيم
[41] 🌿Bercanda Antara Berlebihan Dan Meremehkan🌿
💬... Adz-Dzahaby –rahimahullah– berkata: “Tertawa ringan dan tersenyum lebih utama. Adapun sebagian orang-orang yang berilmu yang meninggalkannya maka hal itu terbagi menjadi dua:
☝🏻️ Pertama: menjadi sesuatu yang utama bagi orang yang meninggalkannya karena menjaga adab, takut kepada Allah, dan sedih terhadap keadaan dirinya.
✌🏻 Kedua: tercela bagi orang meninggalkannya karena pemarah, sombong dan dibuat-buat.
⚠️Namun orang yang banyak tertawa dia akan diremehkan oleh manusia. Dan tidak diragukan lagi bahwa tertawa pada pemuda lebih ringan urusannya dan lebih dimaklumi dibandingkan pada orang yang sudah tua.
🌺Adapun tersenyum dan berwajah ceria maka jelas lebih mulia dibandingkan itu semua. Karena Nabi shallallahu alaihi was sallam bersabda:
تَبَسُّمُكَ فِيْ وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ.
“Senyumanmu di hadapan saudaramu merupakan shadaqah.”📚 [Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 353 –pent].
💬... Jarir (bin Abdillah Al-Bajaly –pent) radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi was sallam tidak pernah melihat diriku kecuali beliau selalu tersenyum.”📚 [Al-Bukhary no. 6089 dan Muslim no. 2475].
🌹Inilah akhlak Islam. Jadi yang paling utama adalah orang yang banyak menangis di malam hari, namun banyak tersenyum di siang hari…
⚠️Tinggal di sini ada sedikit yang perlu diperhatikan: bagi siapa yang terlalu banyak tertawa dan tersenyum, hendaknya dia menguranginya dan mencela dirinya agar manusia tidak muak kepadanya. Sedangkan bagi yang suka cemberut dan bermuka masam hendaknya dia tersenyum, memperbaiki akhlaknya serta mencela dirinya atas keburukan akhlaknya. Segala sesuatu yang menyimpang dari sikap pertengahan maka hal itu tercela. Dan jiwa membutuhkan perjuangan dan latihan.”
📚 [Siyar A’lamin Nubalaa’, terbitan Muassasah Ar-Risalah, 10/140-141].
Sumber materi : Arsip Channel
☀️خلافة على منهاج النبوة☀️
💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡
Adab Islamiyyah
Jam
Sabtu, 29 Oktober 2016
📝Orang yang paling berbahagia dan yang paling beruntung dalam hidup ini adalah orang yang merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Contohnya, orang yang hanya mendapat rizki Rp 5000,- (Lima ribu rupiah) sehari, kemudian ia merasa cukup dengannya, maka ia adalah orang yang paling beruntung dan bersyukur kepada Allah Ta’ala dengan apa yang Allah berikan kepadanya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ.
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberikan rizki yang cukup, dan dia merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya”
📚 [ Shahîh. HR Muslim (no. 1054) dan lainnya, dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhu].
💬Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ أَوْشَكَ اللهُ لَهُ بِالْغِنَى: إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ.
“Barang siapa yang ditimpa suatu kesulitan lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka tidak akan tertutup kefakirannya. Dan barangsiapa yang mengadukan kesulitannya itu kepada Allah, maka Allah akan memberikannya salah satu diantara dua kecukupan: kematian yang cepat atau kecukupan yang cepat”
📚 [Shahîh. HR Ahmad (I/389, 407, 442), Abu Dâwud (no. 1645), at-Tirmidzi (no. 2326), dan al-Hâkim (I/408). Lafazh ini milik Abu Dâwud].
⚠️Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seorang yang mendapat kesulitan dan kesusahan, namun ia selalu berharap kepada orang lain, maka kefakirannya tidak akan tertutupi.
🌸Kita dapat saksikan betapa banyaknya kaum Muslimin yang tertimpa musibah dan kesulitan mereka adukan semuanya kepada orang lain, baik dengan mengatakan bahwa ia sedang sakit atau sedang bangkrut usahanya atau selainnya. Tetapi, apabila mereka sedang mendapatkan senang dan mendapat keuntungan, mereka tidak mengadukannya kepada orang lain.
🌸Seseorang yang mengadukan kefakiran dan kesulitannya agar orang lain merasa kasihan kepadanya, maka hal itu tetap tidak akan menutup kefakirannya.
🌸Namun jika ia merasa cukup dengan karunia yang Allah Ta’ala berikan, dan ia mengadukan segala kesulitannya kepada Allah, maka Dia akan menutupi kefakirannya itu dan akan menambah karunia yang telah diberikan-Nya kepadanya.
🌸Apabila Allah Ta’ala mentakdirkan kita mengalami kesulitan, lalu kita adukan kesulitan yang kita alami kepada Allah, maka Dia akan memberikan kepada kita jalan keluar yang baik dan rizki, baik cepat maupun lambat.
🌸Kita harus mengimani, memahami, dan mengamalkan hadits ini dalam kehidupan kita. Kita harus yakin bahwa hanya Allah-lah yang mendengar kesulitan kita. Adapun manusia, mereka tidak suka mendengar kesulitan orang lain.
Walloohu Ta'ala A'lam Bishshowab
Sumber materi : Arsip Channel
☀️خلافة على منهاج النبوة☀️
💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡
Adab Islamiyyah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ.
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberikan rizki yang cukup, dan dia merasa puas dengan apa yang Allah berikan kepadanya”
📚 [ Shahîh. HR Muslim (no. 1054) dan lainnya, dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhu].
💬Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ أَوْشَكَ اللهُ لَهُ بِالْغِنَى: إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ.
“Barang siapa yang ditimpa suatu kesulitan lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka tidak akan tertutup kefakirannya. Dan barangsiapa yang mengadukan kesulitannya itu kepada Allah, maka Allah akan memberikannya salah satu diantara dua kecukupan: kematian yang cepat atau kecukupan yang cepat”
📚 [Shahîh. HR Ahmad (I/389, 407, 442), Abu Dâwud (no. 1645), at-Tirmidzi (no. 2326), dan al-Hâkim (I/408). Lafazh ini milik Abu Dâwud].
⚠️Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seorang yang mendapat kesulitan dan kesusahan, namun ia selalu berharap kepada orang lain, maka kefakirannya tidak akan tertutupi.
🌸Kita dapat saksikan betapa banyaknya kaum Muslimin yang tertimpa musibah dan kesulitan mereka adukan semuanya kepada orang lain, baik dengan mengatakan bahwa ia sedang sakit atau sedang bangkrut usahanya atau selainnya. Tetapi, apabila mereka sedang mendapatkan senang dan mendapat keuntungan, mereka tidak mengadukannya kepada orang lain.
🌸Seseorang yang mengadukan kefakiran dan kesulitannya agar orang lain merasa kasihan kepadanya, maka hal itu tetap tidak akan menutup kefakirannya.
🌸Namun jika ia merasa cukup dengan karunia yang Allah Ta’ala berikan, dan ia mengadukan segala kesulitannya kepada Allah, maka Dia akan menutupi kefakirannya itu dan akan menambah karunia yang telah diberikan-Nya kepadanya.
🌸Apabila Allah Ta’ala mentakdirkan kita mengalami kesulitan, lalu kita adukan kesulitan yang kita alami kepada Allah, maka Dia akan memberikan kepada kita jalan keluar yang baik dan rizki, baik cepat maupun lambat.
🌸Kita harus mengimani, memahami, dan mengamalkan hadits ini dalam kehidupan kita. Kita harus yakin bahwa hanya Allah-lah yang mendengar kesulitan kita. Adapun manusia, mereka tidak suka mendengar kesulitan orang lain.
Walloohu Ta'ala A'lam Bishshowab
Sumber materi : Arsip Channel
☀️خلافة على منهاج النبوة☀️
💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡💡
Adab Islamiyyah
Millah Ibrahim
MUQADDIMAH
Segala puji bagi Allah Penolong orang-orang yang bertaqwa, dan Yang menghinakan musuh-musuh dien ini…
Shalawat yang paling indah dan salam yang paling sempurna semoga dilimpahkan kepada Nabi dan Tauladan kita yang mengatakan:
إن الله اتخذني خليلا كما اتخذ إبراهيم
Artinya:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan ku sebagai Khalil (kekasih-Nya)
sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim (sebagai khalil)”(1)
Wa Ba’du:
Ini kitab saya “Millah Ibrahim”
saya hadirkan kepada para pembaca yang mulia dengan bajunya yang baru
ini, setelah ia tersebar dan tercetak serta dicopy berulang-ulang dan
dibaca oleh para pemuda di seluruh belahan bumi sebelum saya persiapkan
untuk dicetak. Sedang itu sebabnya adalah saya pernah menghadiahkan
satu buah darinya dengan tulisan tangan saya kepada sebagian ikhwan
kami dari Aljazair dan Pakistan. Dan saat itu ia adalah satu pasal dari
kitab yang saya susun tentang “Metode Para Thaghut Dalam Membungkam
Dakwah dan Para Du’at” yang mana kondisi waktu dan keadaan
berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri yang lain menghalanginya
dari menyelesaikannya. Maka para ikhwan itu mencetak pasal itu dengan
cetakan sederhana yang mereka mampu, namun itulah awal sebab munculnya
dan tersebarnya buku ini.
Kemudian
tatkala Allah subhaanahu wa ta’ala membebaskan saya dengan karunia dan
kemuliaan-Nya. Maka saya langsung mempersiapkan buku ini untuk dicetak
terutama setelah saya melihat sepanjang masa penahanan dan keberadaan
saya di penjara begitu dahsyatnya kegeraman musuh-musuh Allah terhadap
buku ini. Mereka itu setiap kali menangkap seorang ikhwan, pertanyaan
yang pertama kali mereka lontarkan terhadapnya adalah tentang kitab
ini, apakah ia pernah membacanya? dan apakah ia mengetahui penulisnya?.
Sebagian
mereka menyatakan kepada ikhwan yang menjawab pertanyaan tadi dengan
jawaban “Ya”, “Ini cukup untuk menjadikan fikrah kamu jihadi dan kamu
memiliki senjata. Setiap kali kami menangkap organisasi bersenjata,
maka pasti kami dapatkan buku ini padanya.”
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan buku ini sebagai bagian duri di tenggorokan mereka, ghushshah
(sandungan) dalam dada mereka, serta koreng yang berbahaya di hati
mereka. Dan saya meminta kepada Allah agar buku ini selalu menjadi
kebahagiaan bagi kami, serta selalu menjadi sa’dan (duri) (2) bagi para thaghut.
Semenjak
dicetaknya buku ini untuk pertama kali hingga penulisan muqaddimah
ini, saya menunggu datangnya nasihat atau tanbih, dan saya juga selalu
mencari-cari koreksi atau kritikan dari banyak orang yang selalu
menyerang kami, dakwah kami dan kitab kami ini dan apa yang mana mereka
itu telah menuduh dan memfitnah kami dengan sesuatu yang tidak pernah
muncul dari kami sama sekali… sampai akhirnya salah seorang dari mereka
menyampaikan khutbah jum’at di salah satu masjid di Kuwait, dia
mengklaim bahwa saya menyatakan bahwa hanya sayalah sendiri pada zaman
ini yang berada di atas Millah Ibrahim. Dan dia mengklaim bahwa kami
mengkafirkan manusia seluruhnya dia mencap kami sebagai KGB (Khawarij Gaya Baru) serta tuduhan-tuduhan dusta lainnya yang tadi mungkin berpengaruh kecuali atas para pengekor mereka yang buta.
Adapun
pencari kebenaran yang mana bashirah mereka bersinarkan cahaya wahyu
sesungguhnya mereka ini mengetahui bahwa keadaan kami dengan mereka
adalah sepeti apa yang dikatakan oleh seorang penyair
وإذا أراد الله شر فضيلة طويت أتاح لها لسا ن حسود
“Dan bila Allah ingin menebarkan keutamaan yang tertutup …”
“Maka Dia memberikan kesempatan lisan orang-orang yang hasud untuknya.”
Meskipun
panjangnya tenggang waktu semenjak penyebaran buku ini dan meskipun
banyaknya lawan dan orang-orang yang dengki serta banyaknya orang-orang
yang sering mencela dan mengecam, namun tidak ada yang sampai kepada
saya pada tenggang waktu ini satupun bantahan atau kritikan atau
catatan-catatan yang serius seputar buku ini. Dan yang sampai kepada
saya hanyalah ocehan-ocehan umum dari sebagian orang-orang yang
menyelesihi yang mana mereka menukilnya secara lisan dari syaikh-syaikh
mereka. Dan inilah inti ocehan itu:
- Mereka mengatakan: Sesungguhnya Allah mensifati Ibrahim bahwa ia adalah orang yang pengiba (awwaah) lagi penyantun (halim)
karena dia pernah membela-bela kaum Luth yang kafir. Sedangkan ini
menafikan permusuhan terhadap mereka yang telah kalian sebutkan bahwa
hal itu tergolong hal-hal yang baku dalam millah ini.
-
Dan mereka berkata (sungguh aneh apa yang mereka katakan):
Sesungguhnya kita diperintahkan untuk mengikuti jalan Muhammad
Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan millahnya. Adapun Millah Ibrahim maka
itu adalah tergolong syari’at orang-orang sebelum kita, sedangkan
syari’at orang sebelum kita bukanlah syari’at bagi kita.
-
Dan mereka berkata: Sesungguhnya ayat Al Mumtahanah yang
disebutkan di dalamya Millah Ibrahim adalah Madaniyyah. Ia turun di
fase di mana kaum muslimin memiliki daulah (negara), terus mereka
menyimpulkan bahwa Millah Ibrahim yang agung ini hanya ditampakkan dan
diikuti saat adanya daulah.
-
Mereka berkata juga: Sesungguhnya hadits tentang penghancuran
patung-patung di Mekkah adalah hadits dhaif, dan mereka mencari celah
dengan hal itu seraya bertujuan menolak apa yang paling penting di
dalam kitab ini dengan cara melemahkan hadits itu.
Mungkin
pembaca yang cerdik akan mengritik kami dengan sebab kami mau
meluangkan waktu buat mereka dalam rangka membantah lontaran-lontaran
yang hakekatnya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:
شبهة تهافت كالزجاج تخالها حقا وكل كاسر مكسور
“Syubhat yang rapuh bagaikan kaca, engkau mengiranya benar,
padahal semuanya adalah memecahkan lagi dipecahkan.”
Namun
saya melihat tidak ada halangannya untuk membantah hal itu, karena
khawatir hal itu mempengaruhi sebagaian orang atau ditelan
mentah-mentah oleh sebagian orang bodoh, terutama karena tidak ada yang
sampai kepada saya selain hal itu, maka saya katakan dengan ringkas:
Pertama: Adapun firman Allah subhaanahu wa ta’ala tentang Ibrahim:
فَلَمَّا
ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ وَجَآءَتْهُ الْبُشْرَى يُجَادِلُنَا
فِي قَوْمِ لُوطٍ. إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ.
Artinya:
“Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah
datang kepadanya, diapun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami
tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang
penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud, 11: 74-75)
Sungguh
di dalamnya tidak ada dilalah yang bisa digunakan oleh mujadilun
(orang-orang yang mendebat) untuk menutupi kebatilan mereka, para ahli
tafsir telah meriwayatkan bahwa jidal (pembelaan) Ibrahim terhadap kaum
Luth hanyalah demi (keselamatan) Luth dan bukan untuk mereka, para
ahli tafsir menuturkan bahwa tatkala Ibrahim mendengar ucapan malaikat,
“Sesungguhnya kami akan membinasakan penduduk desa ini.”
إِنَّا مُهْلِكُوا أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ
Artinya: “…Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk (Sodom) ini…” (QS. Al Ankabut, 29: 31)
Langganan:
Postingan (Atom)
